Siang itu,tepatnya hari Jumat, 22 Juni 2012, saya menumpangi sebuah taxi.Taxi yang saya tumpangi mungkin dapat dikatakan sebagai Taxi yang tidak berada di bawah koordinasi atau naungan suatu perusahaan yang baik. Taxi seperti ini memang sangat jarang ditumpangi, mengingat banyaknya kejadian yang meresahkan masyarakat akhir-akhir ini, berkaitan dengan penipuan, penganiayaan, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh Taxi tertentu.
Tak dapat dipungkiri, saya pun seringkali memilih-milih ketika hendak menumpangi taxi, karena menurut saya bagaimanapun juga kita harus waspada, terutama melihat kehidupan di ibu kota (Jakarta) yang sangat rentan dengan tindakan kejahatan. Namun, entah mengapa, mungkin Tuhan sedang memberikan pelajaran dan pengalaman baru bagi saya.
Seorang Bapak yang kira-kira berusia 50-an tahun adalah sopir Taxi yang sedang saya tumpangi tersebut. Taxi ini tidak menggunakan argo. Ketika saya bertanya berapa biaya yang harus saya bayar sebelum menumpangi taxi tersebut, sang Bapak memberikan harga yang cukup tinggi, padahal jarak yang ditempuh sangat dekat, dan biasanya dibayar 1/2 dari biaya yang diberikan sang Bapak. Karena panasnya Jakarta dan saya yang sedang terburu-buru akhirnya pun menyetujui untuk menumpangi taxi tersebut, meskipun beberapa kali menawar harganya namun ditolak oleh sang bapak.
Ketika berada di dalam Taxi, sang Bapak tiba-tiba mengatakan: "Neng, maaf ya, Bapak seharian ini belum dapat penumpang (saat itu jam 14.00 WIB), padahal udah mutar2 sampai bensinya hampir habis, tapi gak dapat juga." saya cuma mengatakan: "oh...yang sabar ya Pak." Sang Bapak pun menyambung lagi: "Bapak bingung, kalau gak bisa nyetor hari ini. Bapak punya 8 orang anak, seharunya 10 tapi 2 orang meninggal ketika melahirkan. Anak bapak yang paling tua berusia 25 tahun, tapi nganggur." saya bertanya:" kenapa gak disuruh nyari kerja aja pak?". Kata Si Bapak:"dulu udh pernah kerja tapi dipecat, anak Bapak nakal, suka buat ulah, sejak sekolah dulu suka ikut tawuran. Jadinya sekarang cuma di rumah aja. tidur, bangun, ngerokok. yang lainnya juga gak pada sekolah. Kalo bapak pulang bawa uang 100.000, itu udh langusng habis hari itu juga, dikeroyok sama anak-anak Bapak. jadi mau gak mau Bapak harus berusaha, ngejar setoran."
"hmmmm." balasq. saya bingung mau mengatakan apa. dan ketika itu juga kami tiba di tempat tujuan dan akhirnya saya memberikan bayaran dan hanya bisa mengatakan: "tetap semangat y pak".
Mendengar kisah sang sopir taxi, saya kembali diingatkan untuk selalu bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan pada saya saat ini. Masih banyak orang-orang di luar sana yang mengalami kesulitan yang jauh lebih berat dari yang pernah saya alami.
Terkadang kita seringkali mengeluh dengan apa yang kita miliki saat ini dan selalu tidak merasa puas serta lupa untuk mensyukurinya. Terkadang kita egois, lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan memuaskan keinginan kita terlebih dahulu, sisanya (itu pun kalau ada) baru kita berikan untuk orang lain. Padahal di luar sana, banyak orang yang memiliki nasib yang kurang beruntung seperti kita, namun tetap berusaha berjuang dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang dikasihi.
Saya bersyukur pernah bertemu dan mendengarkan sepenggal kisah hidup dari sang Bapak. Semoga pengalaman saya ini, juga bisa menyadarkan kita semua, yang membaca tulisan saya ini, untuk senantiasa bersyukur atas berkat dan anugerah yang kita miliki saat ini. Apapun itu, bersykurlah, karena Tuhan tidak pernah memberikan ladang kecil bagi kita untuk bertumbuh. Ia tahu yang terbaik bagi kita, Ia mempunya rencana yang indah dan besar bagi kita. Ia selalu memberikan apa yang kita BUTUHKAN bukan apa yang kita INGINKAN.
Sekian, semoga kisah ini memberikan manfaat bagi semua yang membaca tulisan ini.
Salam
Sekian, semoga kisah ini memberikan manfaat bagi semua yang membaca tulisan ini.
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar